Day Care Lansia di Indonesia

DISKRIPSI
“Day Care” merupakan salah satu bentuk pelayanan sosial melalui Panti Penitipan Lanjut Usia, terutama pelayanan terhadap lanjut usia yang tidak potensial yang dititipkan panti penitipan lanjut usia agar mendapat pelayanan sosial berupa : pemberian bantuan pangan, kebersihan, perawatan kesehatan, pendampingan, rekreasi, konseling dan rujukan. Pelayanan yang bentuk “day care” ini mulai marak sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup yang juga banyak mereka manjadi terlantar. Para lansia bermasalah sosial ialah mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas yang karena sebab-sebab tertentu berada dalam kondisi tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya baik secara fisik, mental dan sosialnya.

Kata kunci : Pelayanan lansia berbasis keluarga.

LATAR BELAKANG

Penduduk Negara kita masih menduduki urutan lima besar jumlahnya diantara negara-negara di dunia, yang sampai saat ini jumlahnya yaitu sekitar 225 juta jiwa. Dengan keberhasilan program keluarga berencana beberapa tahun yang lalu, maka seiring dengan jumlah kerlahiran bayi dapat dikurangi, maka di lain pihak adanya keberhasilan di bidang kesehatan justru mengakibatkan usia harapan hidup atau umur rata-rata penduduk semakin meningkat. Dasawarsa 1990-an jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun keatas) sekitar 15.000.000 jiwa. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000 jumlah penduduk lanjut usia adalah 17.767.709 jiwa atau hampir 8 % dari jumlah penduduk Indonesia.

Dengan kata lain jumlah warga negara yang lanjut usia semakin banyak, bahkan diprediksikan jumlah lanjut usia pada tahun 2010 menjadi 9, 58 % dan pada tahun 2020 sebesar 11,20 %. Adanya keberhasilan di bidang kesehatan ini juga harus dicermati dengan seksama, walaupun memasuki ketuaan usia semakin tinggi tersebut namun pada umumnya penyakit pikun jarang dapat dicegah. Hal ini berarti para lanjut usia tersebut juga semakin banyak yang mengalami gangguan kesehatan, selain pikun juga banyak yang mengalami penyakit kronis yang sulit disembuhkan sehingga memerlukan perawatan yang lebih intensif, bahkan kalu hal tersebut kurang dapat dicapai dan banyak kendalanya maka semakin banyak pula para lanjut usia menjadi terlantar.

Secara individual dalam keluarga juga banyak mengalami kesulitan untuk merawat anggota keluarganya yang lanjut usia menderita kelumpuhan, penyakit kronis, pikun, dan sebagainya. Ada pula kendala yang dihadapi para pemerlu pelayanan sosial khususnya para lanjut usia terlantar dan berpenyakit kronis, kelumpuhan, ada hubungannya dengan bantuan/santuan sosial yang diberikan lembaga mestinya untuk sararan yang tepat. Namun berhubung anggota keluarganya juga mengalami masalah sosial tertentu, baik dalam kondisim kemiskinan, keterlantaran, ketunaan, maka sering terjadi pula terutama bantuan sosial yang diberikan kepada anggota yang lanjut usia juga digunakan untuk kebutuhan para anggota keluarga lainnya.

TEORI TENTANG LANJUT USIA

Albert R. Robert dan Gilbert J. Greene dalam bukunya Social Workers’ Desk Reference yang diterjemahkan menjadi Buku Pintar Pekerja Sosial, oleh Drs. Juda Damanik, MSW dan Cynthia Pattiasina, MSW, MPIA, (2008; 357), bahwa manajemen kasus dalam program pelayanan kesehatan dan sosial bagi orang lanjut usia telah berkembang selama 30 tahun terakhir dan mencerminkan beberapa faktor :
1. Lingkungan kebijakan publik yang berubah
2. Apresiasi yang lebih jelas terhadap tantangan hidup bersama penyakit kronis yang diderita oleh orang lanjut usia dan perawatnya
3. Perkembangan sejumlah pendekatan untuk membiayai dan memberikan pelayanan dalam suatu kontinum perawatan penuh termasuk pelayanan perawatan dasar, akut, rawat inap, berbasis komunitas dan jangka panjang.

Berdasarkan hasil diskusi tentang ”perawatan paliatif” yang pernah dipaparkan di STISIP Widuri mengenai topik ”Psikososial penderita penyakit kronis kanker dan perawatan yang dapat meringankan penderita penyakit tersebut, studi kasus di Hongkong” yang diedit oleh Richard Fielding and Cecilia Lai-wan Chan, terutama pada Bab 11 (sebelas) tentang ”kesadaran menghadapi kematian dan perawatan yang meringankan penyakit yang dihadapi penderita”, maka dapat disimpulkan bahwa ”tujuan utama perawatan paliatif” adalah :
a. Bukan untuk menyembuhkan penyakit, apalagi dokter sudah menyatakan penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan, dan apalagi kita orang awam lebih cenderung untuk angkat tangan.
b. Yang diperhatikan bukan hanya si penderita tetapi juga para anggota keluarganya
c. Kepada anggota keluarga dan masyarakat di lingkungan sosialnya, dimotivasikan
bahwa :
1) Kita harus menghargai setiap kehidupan
2) Menganggap kematian itu pasti, dan kehidupan penuh ketidakpastian
3) Kita tidak mempercepat atau menunda kematian
4) Menghargai keinginan penderita/klien/pasien dalam mengambil keputusan
5) Berusaha untuk menghilangkan nyeri, keluhan, perasaan tidak enak, dan hal-hal lain yang menganggu
6) Menghindari tindakan medis yang sia-sia
7) Mengintegrasikan aspek bio-psiko-sosial-spiritual bagi perawatan kepada seseorang baik penderita/klien/pasien termasuk para anggota keluarganya
8) Memberikan dukungan yang diperlukan, agar orang-orang tersebut (penderita/klien/pasien) tetap aktif beraktivitas sesuai dengan kondisinya sampai akhir hayat dalam kebahagiaan, kedamaian, kesenangan
9) Memberikan dukungan kepada para anggota keluarganya dalam masa duka cita.

Berdasarkan Komitmen Internasional tentang pelayanan lanjut usia kiranya dapat dijadikan acuan di dalam perumusan kebijakan dan program pelayanan lanjut usia, yaitu :

a. International Plan of Action of Ageing (Vienna Plan) dengan Resolusi Nomor 37/51 Tahun 1982. Inti Plan Action ini adalah : (1) Mengajak Negara, bersama-sama atau sendiri untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan meningkatkan kehidupan lanjut usia, sejahtera lahir batin, damai, sehat dan aman. (2) Mengkaji dampak menuanya penduduk terhadap pembangunan dan sebaliknya dengan harapan untuk mengembangkan potensi lanjut usia.

b. United Nations Principles of Older Person Tahun 1991 dengan Resolusi Nomor 46/91. Pada dasarnya resolusi ini mengandung himbauan tentang hak dan kewajiban lanjut usia yang dirangkum dalam lima kelompok yaitu : (1) Kemandirian. (2) Partisipasi. (3) Pelayanan. (4) Pemenuhan diri. (5) Martabat.

c. Macao Plan of Action diputuskan oleh sidang ESCAP di Macao Tahun 1998 untuk kawasan Asia Pasifik yang intinya adalah : (1) Memahami masalah dan implikasi menuanya penduduk dan dampaknya terhadap masyarakat. (2) Mempersiapkan penduduk menghadapi proses penuaan dengan produktif dan memuaskan. (3) Mengembangkan infra struktur dan lingkungan baik yang tradisional maupun modern. (4) Meningkatkan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan lanjut usia yang semakin besar jumlahnya.

d. The Second World Assembly On Ageing di Madrid Tahun 2002, mencatat beberapa hal yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut : (1) Peningkatan program dan aksi nasional di bidang partisipasi aktif lanjut usia dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan termasuk dalam pengambilan keputusan. (2) Peningkatan program dukungan masyarakat bagi kesejahteraan lanjut usia dan mempertahankan nilai lanjut usia sebagai bagian dari tanggung jawab keluarga. (3) Pengaturan dan perlindungan terhadap lanjut usia yang masih aktif bekerja sesuai dengan hak-haknya. (4) Meningkatkan upaya membentuk system proteksi sosial dan keamanan nasional bagi lanjut usia sesuai dengan kemampuan pemerintah. (5) Pemberian jaminan sosial khususnya bagi lanjut usia terlantar, cacat dan miskin. (6) Perluasan akses dan kemudahan layanan kesehatan terhadap lanjut usia dalam sistem kesehatan nasional serta advokasi pencegahan terhadap tindak kekerasan.

Menurut Hoyman, Nancy R.; Kiyak, H. Asuman; ( 2005 : 5-7) dalam bukunya “Social Gerontology, A Multi Disciplinary Perspective”, Sevevth Edition, Pearson Alin and Bacon, menyatakan bahwa : Aging in general refers to changes that take place in the organism throughout the life span-good, bad and neutral.

PELAYANAN DAY CARE LANSIA

a. Pelayanan sosial lanjut usia melalui Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW)
b. Pelayanan sosial lanjut usia luar panti
1) Home care, yaitu pelayanan harian terhadap lanjut usia yang tidak potensial yang berada di lingkungan keluarganya yang berupa bantuan bahan pangan atau makanan siap santap dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan hidup lanjut usia secara layak. Di Ibukota Jakarta lebih populer dengan istilah pusat santunan dalam keluarga (PUSAKA).
2) Foster care, yaitu pelayanan sosial yang diberikan kepada lanjut usia terlantar melalui keluarga orang lain, berupa bantuan pangan atau makanan siap santap dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan hidup lanjut usia secara layak.
3) Karang werdha, yaitu pelayanan sosial yang diberikan kepada para lanjut usia yang diselenggarakan oleh kelompok sosial masyarakat atau berbasis masyarakat (community based), biasanya berupa kegiatan olah raga, senam kesegaran jasmani, rekreasi, perkumpulan kematian, serta kegiatan anjang sana dan sarasehan.
4) Usaha Ekonomis Produktif, yaitu bantuan yang diberikan kepada lanjut usia kurang mampu, tetapi masih potensial secara individual sehingga masih memungkinkan untuk diberikan bimbingan keterampilan dalam rangka usaha ekonomis produktif.
5) Bantuan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE), yaitu bantuan berupa paket usaha produktif, dikelola secara kelompok yang diberikan kepada lanjut usia yang potensial. Setiap kelompok biasanya terdiri antara 5 -10 orang, dan sebelumnya diberikan bimbinan sosial, baik keterampilan masupun pengembangan KUBE lanjut usia.
c. Pelayanan sosial lanjut usia melalui kelembagaan
d. Pelayanan sosial bidang perlindungan sosial dan aksesibilitas lanjut usia

KEPUSTAKAAN :

1. Barker, Robert L.; (1999) : The Social Work Dictionary , 4 th edition, Washington D.C., NASW Press.2.Departemen Sosial RI; (2003) : Pedoman Pelayanan Harian Lanjut Usia (Day Care Services); Jakarta, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.3.Departemen Sosial RI; (1999) : Uundang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Jakarta, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.4. DuBois, Brenda; and Miley, Karla Krogsrud; (2005) : Social Work, An Empowering Profession, Boston, Pearson Education, Inc;5. Heffernan, Joseph; Shuttlesworth. Guy; Amborsino, Rosalie; (1997) : Social Work And Social Welfare, An Introduction, Third Edition; Mineapolis/St.Paul, New York; West Publishing Company;6. Hoyman, Nancy R.; Kiyak, H. Asuman; 2005 : Social Gerontology, A Multi Disciplinary Perspective, Sevevth Edition,sa, Pearson Alin and Bacon;7. Naleppa, Matthias J. and Reid, William J. : 2003 : Gerontological Social Work, A Task Centered Approach; New York, Columbia University Press;8. Roberts, Albert R., and Greene, Gilbert J. (2008) : Social Workers’ Desk Reference; diterjemahkan oleh Drs. Juda Damanik, MSW dan Cynthia Pattiasina, MSW, MPIA, menjadi Buku Pintar Pekerja Sosial, Jilid 1, Jakarta, PT BPK Gunung Mulia.
Pengirim : Joko Sumarno (widyaiswara Madya BBPPKS Jogyakarta)

Sumber : BBPPKS Jogyakarta