Membangun Citra Diri Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan

Abstract
Bekas warga binaan lembaga pemasyarakatan (BWBLP) adalah seseorang yang telah selesai menjalani masa pidana yang dijatuhkan kepadanya berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Muara yang akan dicapai yaitu memulihkan kembali harga diri dan kepercayaan diri yang telah hilang. Bahwa dalam kondisi bagaimanapun yang melekat pada diri BWBLP, dia punya potensi, dia punya kemampuan, untuk mengangkat harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Kiat-kiat untuk membangun kepercayaan diri, antara lain meliputi : 1) Berani menerima tanggung jawab, 2) Kembangkan nilai positif, 3) Menghilangkan pengaruh negatif, 4) Pengakuan dan penghargaan, 5) Pujian, 6) Memanjakan diri, 7) Beranggapan baik terhadap diri sendiri, 8) Berani mengambil resiko, 9) Jadikan keresahan sebagai kawan, 10) Dapatkan input positif melalui panca indera.

Kata Kunci : Citra diri dan Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan

I. PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang Masalah.
Sering kita dengar melalui media elektronik seperti televise, radio atau media cetak seperti koran, adanya seorang penjahat kambuhan atau residivis yang beraksi kembali mengganggu ketentraman masyarakat dengan melakukan pencurian, penodongan, pencopetan, perampokan dan penggarongan. Mengapa mereka kembali melakukan tindakan kejahatan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya ?
Bahkan tindakannya dilakukan dengan lebih sadis. Jawabnya tentu bervariasi tergantung dari kacamata mana meneropongnya.

Bekas warga binaan lembaga pemasyarakatan (BWBLP) adalah seseorang yang telah selesai menjalani masa pidana yang dijatuhkan kepadanya berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Banyak diantara mereka yang memulai mengayunkan langkah kebebasan dalam hati kecilnya diliputi rasa kecemasan, akankah ia diterima kembali kepangkuan keluarga dan masyarakat di sekitarnya dimana ia berdomisili. Pantas memang BWBLP merasa cemas karena sebagian masyarakat sering tidak mudah membuang masa lalu seseorang. Malah masa lalu itu sering dipakai untuk memojokkan atau bahkan menyingkirkan seseorang dari orbit sosialnya. Tidak ada manfaatnya berbenah diri memperbaiki diri selama dalam lembaga pemasyarakatan kalau setelah kembali ke masyarakat tidak diterima dan tidak dihargai. Bahkan sebagian masyarakat tetap menderanya dengan sejarah masa lalunya yang tidak putih. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa lebih senang kepada hambanya yang masa lalunya hitam kelam tetapi mau memperbaiki menjadi putih bersih, daripada masa lalunya putih bersih tetapi menjadi hitam pekat sampai ia masuk ke liang lahat.

Ebiet G ade seorang komponis yang sangat peka terhadap situasi social meraciknya kedalam sebuah lagu tentang permasalahan social yang dihadapi oleh BWBLP dengan judul lagu “ Kalian dengarkanlah keluhanku “. Berikut kutipan syair lagu tersebut : Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama, demi terhenti tangis anakku & keluh ibunya, tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga, seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku. Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat, apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan, sedang Tuhan diatas sana tak pernah menghukum, dengan sinar matanya yang lebih tajam dari matahari. Kemanakah sirnanya nurani embun pagi, yang biasanya ramah kini membakar hati, apakah bila terlanjur salah akan tetap dianggap salah. tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi utk kembali. Kembali dari keterasingan kebumi berada, ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang, Tuhan bimbinglah batin ini agar tak gelap mata, dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu.

B. Permasalahan.
BWBLP yang kembali ke masyarakat sebagian mengalami masalah kesejahteraan sosial. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membangun citra diri dan kepercayaan diri BWBLP agar diterima kembali oleh keluarga dan masyarakat lingkungannya.

II. PEMBAHASAN.
Rehabilitasi sosial
Rehabilitasi sosial adalah adalah suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan BWBLP mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat. Muara yang akan dicapai yaitu memulihkan kembali harga diri dan kepercayaan diri yang telah hilang. Bahwa dalam kondisi bagaimanapun yang melekat pada diri BWBLP, dia punya potensi, dia punya kemampuan, untuk mengangkat harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Membangun Kepercayaan Diri

Lauster (1992) dalam Hermahayu (2008), mendefinisikan kepercayaan diri sebagai salah satu aspek kepribadian yang berupa keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh orang lain dan dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, optimistis, cukup toleran dan bertanggung jawab. Ia menambahkan bahwa kepercayaan diri berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu dengan baik.

Dengan kata lain individu yang percaya diri harus mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Dari pendapat Lauster diatas bahwa pengertian kepercayaan diri pada rinsip nya mengandung unsur-unsur sebagai berikut : 1) Merupakan salah satu aspek dari kepribadian.yang berupa keyakinan akan kemampuan diri, 2) Tidak terpengaruh oleh orang lain sehingga dapat bertindak sesuai kehendak, 3) Gembira, 4) Optimistis, 5) Cukup toleran, dan 6) Bertanggung jawab.

Michael Andrea (2011) dalam bukunya yang berjudul “ Kekuatan Super dahsyat berpikir Positif “ mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan Kepercayaan diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang, dimana kita dapat mengevaluasi keseluruhan dari dirinya sehingga memberi keyakinan kuat pada kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Dari pengertian yang dikemukakan Michael Andrea diatas bahwa kepercayaan diri unsur-unsurnya meliputi : 1) Kondisi mental atau psikologis seseorang, 2) Melakukan evaluasi terhadap keseluruhan diri, 3) Adanya keyakinan yang kuat akan kemampuan diri, 4) Melakukan tindakan dalam mencapai tujuan hidup.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut selanjutnya dapat disimpulkan bahwa pengertian kepercayaan diri unsur-unsurnya terdiri dari : 1) Merupakan salah satu aspek kepribadian yaitu suatu kondisi mental atau psikologis seseorang, 2) Adanya keyakinan yang kuat akan kemampuan diri, 3) Tidak terpengaruh orang lain, 4) Gembira, 5) Optimistis, 6) Cukup toleran, 7) Bertanggung jawab, dan 8) Melakukan tindakan untuk mencapai tujuan.

Kepercayaan diri merupakan faktor yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan. Seseorang yang mengalami kepercayaan diri rendah, diperlukan untuk membangun kembali atau meningkatkan kepercayaan dirinya. Menurut Dara Nayati (2010), kiat-kiat untuk membangun kepercayaan diri, antara lain meliputi : 1) Berani menerima tanggung jawab, 2) Kembangkan nilai positif, 3) Menghilangkan pengaruh negatif, 4) Pengakuan dan penghargaan, 5) Pujian, 6) Memanjakan diri, 7) Beranggapan baik terhadap diri sendiri, 8) Berani mengambil resiko, 9) Jadikan keresahan sebagai kawan, 10) Dapatkan input positif melalui panca indera.

Dalam membangun kepercayaan diri dengan menerapkan ke-10 kiat tersebut perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan karena antara kiat yang satu dengan yang lainnya akan saling berkaitan dan saling menunjang. Hal yang lebih penting juga adalah bagaimana selalu mengembangkan nilai positif pada diri orang yang ditingkatkan kepercayaan dirinya.

Ciri Kepercayaan dir

Setelah menjalani rehabilitasi sosial, BWBLP diharapkan memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi. Menurut Jacinta F. Rini ( 2002 ), beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah : Pertama, Percaya akan kompetensi / kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain. Kedua, Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok. Ketiga, Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain – berani menjadi diri sendiri. Keempat, Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil). Kelima, Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/ mengharapkan bantuan orang lain). Keenam, Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya. Ketujuh, Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

Waterman ( 1988 ) dalam Hermahayu ( 2008 ), menyatakan bahwa kepercayaan diri bukan merupakan sesuatu yang yang bersifat bawaan tetapi merupakan sesuatu yang terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Kepercayaan diri dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : 1) Konsep diri, 2) Harga diri, 3) Pengalaman, 4) Pendidikan.

Cahyo Satria Wijaya ( 2011 ), percaya diri adalah sesuatu yang dinamis, ia bisa naik dan turun, berubah dan berkembang. Ditentukan oleh dinamika posisi, kondisi, dan situasi anda kala itu. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaganya agar tetap berada di tingkat yang optimal dan sehat. Lebih lanjut Cahyo Satria Wijaya menyebutkan bahwa, ada beberapa alasan untuk percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain : 1) Percaya diri berarti tahan banting, 2) Percaya diri mampu mengontrol diri, 3) Percaya diri dapat mengetahui kapasitas diri, 4) Percaya diri memperbaiki kualitas networking, 5) Percaya diri berarti fokus pada dunia luar, 6) Percaya diri berarti hidup yang lebih nyaman, 7) Percaya diri berarti pesan positif, 8) Percaya diri berarti peluang untuk menumbuhkan karisma.

Berdasarkan alasan untuk percaya diri, termasuk para BWBLP seperti yang dikemukakan oleh Cahyo Satria Wijaya diatas, bahwa percaya diri pada pokoknya selalu berkaitan dengan berbagai pola pikir, sikap dan perilaku positif, mampu mengontrol diri, paham akan kemampuan diri, dan berkaitan dengan orang lain.

III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI.

A. Kesimpulan
Langkah-langkah untuk membangun kepercayaan diri, antara lain meliputi : 1) Berani menerima tanggung jawab, 2) Kembangkan nilai positif, 3) Menghilangkan pengaruh negatif, 4) Pengakuan dan penghargaan, 5) Pujian, 6) Memanjakan diri, 7) Beranggapan baik terhadap diri sendiri, 8) Berani mengambil resiko, 9) Jadikan keresahan sebagai kawan, 10) Dapatkan input positif melalui panca indera.

B. Rekomendasi
Kepada Pekerja sosial
Membangun kepercayaan diri BWBLP merupakan salah satu langkah dalam proses rehabilitasi sosial, disamping langkah-langkah yang lain. Oleh karena itu, setiap tahapannya perlu diukur dengan standar indikator keberhasilannya.

DAFTAR PUSTAKA.
Dara Nayati, 2010, Percaya Diri, Pentingkah itu, Wacana Widya, Edisi 10, Januari-Desember 2010, Ikatan Widyaiswara Indonesia Yogyakarta.
Hermahayu, 2008, Hubungan Motivasi berprestasi dan Kepercayaan diri dengan Prestasi atlet Pusdiklat Pelajar di Indonesia, Thesis, tidak diterbitkan,Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.
Jacinta F. Rini, 2002 , Www. e – psikologi.Com, diakses 2 Juli 2011
Michael Andrea, 2011, Kekuatan Super Dahsyat Berpikir Positif, Pinang Merah Publisher, Yogyakarta.
Wijaya, Cahyo Satria, 2011, 19 Menit Menaklukkan Orang-Orang di sekitar Anda, Immortal Publisher, Yogyakarta.

Pengirim : Uji Hartono, Widyaiswara BBPPKS Yogyakarta.

Sumber : BBPPKS Yogyakarta