Merajut Relawan Sosial Menjadi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM)

DISKRIPSI

Kementerian sosial RI menjalin kemitraan dengan masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok/kelembagaan yang peduli dalam usaha kesejahteraan sosial. Secara perorangan mereka yang mengabdi di bidang sosial kemanusiaan lazimnya dikenal sebagai relawan sosial. Dalam perkembangannya relawan-relawan sosial yang menjadi mitra Kementerian sosial tersebut kemudian memiliki sebutan sebagai Sosiawan/Sosiawati, Batu Dasar Sosial, Kader-kader Sosial, Pembimbing Sosial, Penggerak Sosial, Pembimbing Sosial Sukarela (PSS), Pembimbing Sosial Masyarakat (PSM), Pembimbing Sosial Lapangan (PSL), Tenaga Kesejahteraan Sosial Sukarela (TKSS), Pembina Keserasian Sosial (PKS), PSM Satgassos, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), kemudian sebutan mereka tergabung dengan kelompok yang disebut Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (TKSM). Ini sesuai yang menjadi salah satu tenaga kesejahteraan sosial dalam UU NO.11 tahun 2009. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) merupakan salah satu komponen masyarakat yang dapat diandalkan sebagai mitra kerja pemerintah khususnya Kementerian Sosial dalam pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial, karena PSM adalah warga masyarakat yang peduli, memiliki wawasan dan komitmen pengabdian di bidang sosial kemanusiaan. Pada dasarnya rasa kemanusiaan dan rasa sosial masih tebal bersemayam di hati sanubari setiap warga masyarakat terutama yang bertempat tinggal di pedesaan, di kampung-kampung atau di tingkat RT/RW. Mereka memiliki sifat kodrat manusia, hal ini terbukti dengan masih kuatnya tradisi saling tolong menolong baik secara gotong-royong maupun yang dilakukan secara perorangan, mereka itu semuanya merupakan relawan sosial yang mengemban nilai-nilai salah satu warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat luhur dan tinggi harganya.

Kata Kunci : Relawan sosial adalah masyarakat yang peduli tentang sosial.

A. DASAR PEMIKIRAN

PSM adalah warga masyarakat yang peduli, memiliki wawasan dan komitmen pengabdian di bidang sosial kemanusiaan dalam lingkungan masyarakat di desanya atau kelurahannya, terutama di komunitasnya. Baik ia sebagai PSM atau sebutan sebelumnya yang pernah dibina dan diberdayakan pemerintah maupun yang belum, mengingat kekhususan tugas mereka maka secara perorangan berbeda dari waktu ke waktu, dan dari satu lembaga/organisasi sosial dengan tempat bekerja yang lainnya, serta tidak seluruhnya dapat ditemukan di setiap lembaga pelayanan sosial tempat para relawan itu mengabdi di bidang sosial kemanusiaan.

PSM di dalam melaksanakan tugas pengabdiannya atas dasar rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial serta didorong oleh rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi di bidang sosial kemanusiaan, terutama dalam turut menanggulangi permasalahan sosial bersama warga masyarakat di desa/kelurahan dimana mereka berada. Dengan demikian yang pasti PSM itu adalah relawan sosial, termasuk baik yang telah diberdayakan pemerintah maupun yang belum, sedangkan relawan sosial yang juga tersebar dimana-mana belum tentu mereka semuanya sebagai PSM.

Kalau sementara orang awam masih mempermasalahkan istilah Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) disatu pihak dengan Pekerja Sosial Profesional di lain pihak, maka jelas bahwa PSM atau TKSM serta apa saja sebutannya itu adalah relawan sosial. Sedangkan Pekerja Sosial adalah disamping memiliki sikap seperti yang dimiliki para relawan sosial berdasar keterpanggilan hatinya, maka Pekerja Sosial (yang profesional) yang berpendidikan profesi secara khusus, memiliki keterampilan teknis dalam memberikan pertolongan berdasarkan filosofi, nilai-nilai, metode-metode dan prinsip-prinsip yang baku dalam profesi pekerjaan sosial, semuanya dipelajari dari gabungan pendidikan resmi di perguruan tinggi dan pengalaman di lapangan, sehingga berhak menyandang gelar pekerja sosial profesional atau predikat sebagai pekerja sosial. Jadi PSM bukan termasuk pekerja sosial profesional, melainkan sebagai “para pekerja sosial” atau relawan (volunteer).

Ada pula anggapan bahwa : “ Social Workers are often identified as “welfare workers” who are engaged in public assistance programs. Obviously, this is a false premise since social workers are involved in many different practice settings that offer a wide range of service. (Heffernan, 1997 : 38). Pekerja Sosial sering diidentikkan dengan “pekerja kesejahteraan” atau orang yang suka memberi bantuan/pertolongan kepada masyarakat. Anggapan tersebut merupakan pemahaman yang keliru, karena pekerja sosial itu sebenarnya dilibatkan dalam berbagai macam praktik pelayanan lembaga yang melakukan beraneka ragam pelayanan sosial yang luas. Di samping peranan Pekerja Sosial seperti halnya yang dilakukan para relawan dan atau relawan sosial, maka juga memiliki tugas dan fungsi yang spesifik untuk : melaksanakan kegiatan profesional; membantu orang baik individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat; memperbaiki/meningkatkan keberfungsian sosial, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan mencapai tujuan hidup yang sejahtera melalui berbagai usaha kesejahteraan sosial.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penulisan sejarah perkembangan PSM ini sebagai berikut :

1. Maksud penulisan mengenai ke-PSM-an ini sebagai sumbangan pemikiran kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) serta masyarakat pada umumnya, dalam upaya penguatan eksistensi dan pemberdayaan PSM, baik penguatan pribadi, antar pribadi maupun organisasional.
2. Tujuannya adalah :
a. Meningkatnya wawasan dan melestarikan komitmen PSM terutama terhadap jati dirinya, kepribadian, kompetensi dari segi pengetahuan, sikap dan perilaku serta keterampilan dan pengabdiannya di bidang sosial kemanusiaan, sehingga dapat menyatukan pemahaman bagi para PSM dan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang peduli untuk meningkatkan jumlah dan mutu PSM guna pemberdayaannya secara berkesinambungan.
b. Supaya masyarakat mengetahui tentang eksistensi perkembangan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dari masa ke masa.

C. Relawan Sosial Menjadi Sosiawan/Sosiawati sebagai Batu Dasar Sosial

Salah satu pedoman yang digunakan aparatur Kementerian Sosial adalah juga menggunakan filosofi yang dicetuskan Ki Hajar Dewantoro pada pendidikan Taman Siswa, yaitu : Ing ngarso sung tulodo, sebagai pimpinan atau petugas sosial yang selalu dikedepankan harus dapat memberikan suri tauladan; Ing madyo mangun karso, sebagai pimpinan atau petugas sosial ditengah-tengah masyarakat harus bisa menunjukkan karyanya dan harus dapat menggerakkan masyarakat untuk berkarya; Tut wuri handayani, sebagai pimpinan atau petugas sosial harus dapat memberikan dorongan, motivasi dan bimbingan; yang penerapannya dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Pada prinsipnya telah ditemukan komitmen bahwa :
1. Warga masyarakat terutama para pemuka masyarakat dan relawan-relawan sosial merupakan SDM bidang sosial kemanusiaan, mutlak perlu diikutsertakan melaksanakan berbagai usaha kesejahteraan sosial.
2. SDM dari masyarakat tersebut perlu dipersiapkan menjadi suatu masyarakat yang social mindedness, dengan dibangkitkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosialnya melalui serangkaian kegiatan bimbingan sosial, serta diberikan bekal pengetahuan tentang teknik-teknik dan prinsip-prinsip di bidang pekerjaan sosial.
3. Sarana yang dianggap praktis untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut melalui kursus secara lisan berupa eksperimen bimbingan sosial atau Kursus Bimbingan Sosial (KBS) secara klasikal.

Berbagai eksperimen bimbingan sosial atau KBS telah dilaksanakan, pada umumnya diikuti oleh pemuka-pemuka masyarakat, pamong desa yang memiliki jiwa kerelawanan sosial untuk menjadi Sosiawan/ Sosiawati. Mengingat latar belakang pendidikan mereka masih rendah, maka tingkat kecerdasan dan pengetahuannya pun masih rendah. Namun bekal kemampuan awal yang terdapat pada diri mereka berupa budi pekerti, nilai-nilai, semangat dan motivasi yang tinggi dari lubuk hatinya (heart – afektif – sikap/perilaku) maka memudahkan untuk proses pembelajarannya dalam menerima ilmu pengetahuan pengantar pekerjaan sosial yang ditanamkan dalam benak mereka (head – koqnitif- knowledge), yang langsung diadakan praktk kerja lapangan untuk menerapkan keterampilannya (hand- – psiko motorik – skill) dalam menyelenggarakan usaha-usaha kesejahteraan sosial. Untuk mencapai tiga kompetensi (heart – head – hand) tersebut maka bahan–bahan materi pelajaran disusun secara sistimatis, metodis dan didaktis untuk model pembelajaran orang dewasa (andragogy).

Disadari oleh para petugas sosial kecamatan/mantri sosial kecamatan bahwa relawan sosial tersebut telah menjadi mitra kerjanya dalam menyelenggarakan usaha kesejahteraan sosial, sehingga merasa perlu kepada para relawan sosial lainnya diberikan bimbingan sosial. Karena tidak mungkin sekaligus mencapai dan menjangkau seluruh warga masyarakat, maka melalui bimbingan sosial sekaligus mencari dan merajut “steunpunten” dalam masyarakat yang disebut sebagai “Batu Dasar Sosial”

Batu Dasar Sosial – Batu Dasar Sosial yang telah memiliki jiwa kerelawanan sosial inilah yang pertama-tama diberikan pengertian secara bimbingan sosial perorangan atau tatap muka tentang maksud dan tujuan menyelenggarakan usaha kesejahteraan sosial. Batu Dasar Sosial – Batu Dasar Sosial ini kemudian diajak untuk meneruskan atau merajut dan menggethoktularkannya kepada orang lain sambil merajut calon-calon Batu Dasar Sosial lainnya, dan demikian selanjutnya hingga sampai di lingkungan tetangga, RT/RW, kampung/dusun, sampai dengan masyarakat luas, yang system ini dikenal sebagai system “adu tritis”, “gethok tular”, olievlek system”. Setetes minyak yang jatuh diatas kertas, lama-lama akan melebar keseluruh halaman kertas tersebut menjadi basah. Artinya seorang seteunpunten atau Batu Dasar Sosial menggethoktularkan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap-perilakunya kepada orang lain, maka orang lain tersebut juga dapat memahami serta memiliki kompetensi tersebut, yang selanjutnya juga mereka menggethoktularkan kepada orang lainnya lagi. Selain Batu Dasar Sosial dapat memahami dan mampu mengatasi permasalahannya sendiri, diharapkan orang lain yang dibantu juga dapat menolong dirinya agar setelah itu dapat menolong orang lain, begitu seterusnya. (to help the people to help them selves).

Pada umumnya para Relawan Sosial yang telah mengikuti KBS tersebut sering disebut Sosiawan/Sosiawati, selanjutnya dikenal dan berpredikat sebagai Batu Dasar Sosial. Dengan demikian para Batu Dasar Sosial tersebut sebagai orang yang tugasnya memotivasi (motivator) dan menggerakkan (dinamisator) warga masyarakat untuk menyelenggarakan usaha-usaha kesejahteraan sosial. Baik Relawan Sosial, Sosiawan/Sosiawati maupun Batu Dasar Sosial sesungguhnya menunjukkan pengabdiannya di bidang sosial kemasyarakatan kepada warga masyarakat di lingkungannya atau sebagai pengabdi sosial masyarakat.

Istilah atau sebutan pengabdi sosial masyarakat pada waktu itu tidak ada pemikiran untuk disingkat namannya dengan istilah PSM. Mereka dapat dipastikan telah memiliki kemampuan ataupun kompetensi dasar berupa semangat dan motivasi yang tinggi yang ada dalam hati sanubarinya, yaitu :
• Panggilan hati untuk mengabdi di bidang sosial kemanusiaan atas dasar getaran manusiawi dari lubuk hati yang sangat dalam.
• Ingin beramal sesuai ajaran agama yang dianutnya.
• Ingin menolong orang lain tanpa imbalan, karena diantara mereka merasa pernah ditolong orang lain, sehingga ada motivasi membalas budi baik.

Dari berbagai motivasi para Batu Dasar Sosial yang dilandasi oleh rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial untuk mengabdi di bidang sosial kemanusiaan, kemudian diadministrasikan, dibukukan dan dijadikan penelitian untuk kegiatan Kursus Bimbingan Sosial (KBS). Untuk itu ada pemikiran bahwa semua kegiatan yang telah dilakukan harus ada pedoman atau panduannya yang dibukukan.

Untuk menyusun buku pedoman atau panduan kegiatan bimbingan sosial dalam bentuk kursus tersebut, maka Prof. Mr. Sumantri Praptokusumo (Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial) pada tahun 1949 menunjuk stafnya bernama O.Bey yang memiliki latar belakang pendidikan (guru) untuk menyusun kurikulum dalam KBS, kemudian setelah dibukukan naskah tersebut diberikan nama Pembimbing Sosial, dan para peserta termasuk para pegawai sosial (pegawai negeri) yang telah mengikuti KBS juga tepat kiranya apabila dikatakan sebagai Pembimbing Sosial di masyarakat. Isi dalam buku Pembimbing Sosial antara lain mengenai:
1. Pengertian-pengertian tentang kesosialan
2. Usaha menyelenggarakan kesejahteraan sosial
3. Mencegah usaha timbulnya ke-a-sosialan

Pada akhirnya LSD hilang LKMD datang. Kondisi seperti itulah yang menjadi faktor dominan dan mendorong untuk mencari bentuk baru dalam rangka melahirkan mitra kerja sebagaimana yang telah dilakukan selama ini. Dengan kearifan para pejabat serta pegawai yang berlatar belakang pendidikan sarjana akhirnya dapat merumuskan beberapa hal yang dapat memebrikan masukan untuk ditetapkannya kebijakan Departemen Sosial guna melahirkan, menumbuhkan dan mengembangkan PSM, suatu nama yang sebelumnya tidak pernah di dengar apalagi menjadi kebijakan Kementerian Sosial. Nama Pekerja Sosial sering kita dengar, tetapi nama Pekerja Sosial Masyarakat kurang/tidak terdengar (belum/tidak familier dengan nama PSM tersebut). Kalau saja LSD tetap di Departemen Sosial, barangkali PSM tidak secepat itu muncul dalam kancah pembangunan kesejahteraan sosial, walaupun rohnya sudah ada sebagai pengabdi sosial masyarakat.

Dengan demikian pada masa itu memuat peristiwa yang menggambarkan suasana dimana Kementerian Sosial merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu LSD. Dalam perkembangannya bukan hanya LSD yang hilang, tetapi juga PK3A.

Peristiwa yang terjadi antara lain ( Tahun 1971 s/d 1975)
1. Penyerahan LSD dari Menteri Sosial, HMS Mintaredja, SH kepada Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, termasuk Direktur Jenderal Bina Karya.
2. Direktorat Pembinaan LSD hilang, pegawainya masuk ke Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial.
3. Direktorat Pembinaan Swadaya Sosial Masyarakat dibentuk, terdiri dari 3 Subdit: Perumahan dan Lingkungan atau Perumahan Sejahtera Gotong Royong (PSGR), Pembinaan Potensi Sosial Masyarakat (sekarang jadi Direktorat Fakir Miskin), dan Pembinaan Organisasi Sosial.

C. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat

Peran dan fungsi PSM ke depan perlu ditumbuhkembangkan dan ditingkatkan lebih baik lagi, tidak hanya motivator, dinamisator, katalisator, dan pelaksana pembangunan kesejahteraan sosial, namun juga sebagai inisiator, fasilitator, advokator dan evaluator yang dapat mengakomodasikan pengelolaan permasalahan sosial warga masyarakat disekitarnya, pemenuhan kebutuhan serta kemudahan di dalam penyelenggaraan berbagai usaha-usaha kesejahteraan sosial dalam rangka pencapaian tingkat keberfungsian sosial warga masyarakat.

Dengan demikian, maka peningkatan kualitas ”SDM para PSM” tersebut tetap menjadi prioritas yang sangat penting, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) PSM atau diklat TKSM, agar :
1. PSM senantiasa mengkombinasikan berbagai kompetensi (heart, head, hand) yaitu niat, kemauan, ketulusan, kejujuran, keterpanggilan, nilai-nilai, ilmu pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengalaman dan seni di dalam menghadapi tantangan, ancaman dan penolakan yang rentan menggoyahkan tekadnya.
2. PSM tetap sejawat masyarakat dan mitra pemerintah sehingga mampu menjembatani aspirasi warga masyarakat yang dapat diselaraskan sejalan dengan kebijakan pemerintah.
3. Program bimbingan sosial berperilaku asertif (assertive training) bagi PSM sangat tepat dan merupakan penguatan agar lebih percaya diri, cerdas dan terampil menyampaikan pendapat, buah pikiran, gagasan, perasaan, kejujuran, obyektivitas dan selalu berfikir secara jernih, tidak dipengaruhi oleh judgment atau hal-hal yang bersifat emosional, sehingga memiliki ketahanan sosial bagi dirinya.
4. Jati diri PSM terutama yang berkaitan dengan afektifnya yang telah mengakar di lubuk hati sanubarinya memang sangat rawan sewaktu-waktu dapat bergeser dalam menghadapi perkembangan zaman yang bersifat global, sehingga menjadikan ketidakpuasan di dalam pelaksanaan tugas-tugas pengabdiannya.

D. Proyeksi PSM ke Depan

Dalam kehidupan global dengan berbagai persoalan yang rumit di tengah infiltrasi nilai-nilai yang sering tidak seirama dengan konsep dasar semangat keterpanggilan di bidang sosial kemanusiaan, namun suatu contoh apabila di daerah saat ini terjadi suatu musibah, bencana ataupun kejadian heroik lain yang banyak menimbulkan korban jiwa manusia, pasti saat itu juga banyak orang-orang yang tersentuh hatinya berniat ingin menolong kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Orang-orang seperti ini atau yang memiliki jiwa relawan sosial tersebut masih banyak tersebar disegala penjuru pelosok tanah air, dari dulu sampai sekarang masih eksis. Dengan demikian merajut para relawan sosial menjadi PSM merupakan perbuatan yang sangat mulia karena dapat lebih melestarikan jiwa kerelawanan sosialnya, khususnya dalam penyelenggaraan berbagai usaha-usaha kesejahteraan sosial dalam rangka pencapaian tingkat keberfungsian sosial warga masyarakat.

Dari dahulu sampai sekarang PSM masih menampilkan peran sosialnya, dengan semangat pengabdian yang tinggi senantiasa menegakkan nilai-nilai sosial kemanusiaan atas dasar kearifannya. Dengan demikian, maka untuk proyeksi ke depan :

1. PSM adalah tetap merupakan salah satu infrastruktur sosial masyarakat yang dijadikan mitra kerja pemerintah terutama Kementerian Sosial, serta sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) atau potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang dalam hal-hal tertentu masih menjadi pelaksana program pembangunan kesejahteraan sosial di masyarakat.

2. PSM dapat menggethoktularkan tugas-tugas dan pengabdiannya kepada relawan sosial yang lain, sekaligus merajut relawan sosial menjadi PSM. Secara swadaya, swakarya dan swasembada para PSM yang akan datang lebih banyak lagi pengayaannya dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial, karena adanya dukungan PSM itu sendiri yang memiliki kompetensi (pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai) sehingga mampu memberikan andil yang berharga dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial. Dalam hal ini PSM sangat populer sebagai motivator, dinamisator, katalisator, dan pelaksana pembangunan kesejahteraan sosial di grassroot level.

3. Prestasinya sebagai teladan tetap dihadirkan dalam setiap upacara kenegaraan 17 Agustus di Istana Merdeka, sebagaimana yang telah pernah dirintis sejak tahun 1986 bersama teladan lainnya (dokter teladan, bidan teladan, juru penerang teladan, guru teladan, dosen teladan, mahasiswa teladan, pelajar teladan, PPL teladan, karang taruna teladan, dsb) .

4. Character building PSM untuk pendampingan social
Pendampingan merupakan kata benda yang berasal dari damping, yang artinya dekat, karib, rapat. Jadi, pendampingan dapat diartikan sebagai proses pendekatan sehingga menjadi karib dan akrab. Pendampingan sosial adalah suatu proses menjalin relasi sosial antara seseorang pendamping dengan seorang warga masyarakat dan kelompok masyarakat sekitarnya, dalam rangka memecahkan masalah, memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta rneningkatkan akses warga masyarakat terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya.
Dalam pendampingan sosial terdapat berbagai unsur, di mana masing-masing unsur saling berinteraksi dan berinterdependensi sebagai suatu sistem sosial yang utuh, terpadu, komprehensif dan terkoordinasikan.
Nilai-nilai afektif yang telah dimiliki dan mencerminkan jati dirinya serta integritas yang diwujudkannya, sehingga para PSM benar-benar memiliki kompetensi afektif baik membangun sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak maupun budi pekerti, yaitu senantiasa diupayakan agar memiliki beberapa sikap-sikap dan perilaku antara lain sebagai berikut :

PSM dapat memberikan curah hati dan empati kepada anggota keluarga si penderita, juga para tetangganya dan warga masyarakat di lingkungan sosialnya, untuk diberikan motivasi, pengertian dan pemahaman bahwa :
1. Kita harus menghargai setiap kehidupan
2. Kita harus mempunyai anggapan bahwa kematian itu pasti, sedangkan kehidupan penuh dengan ketidakpastian
3. Kita tidak boleh mempercepat atau menunda kematian seseorang
4. Kita harus menghargai keinginan penderita/klien//pasien di dalam mengambil keputusan
5. Bila memungkinkan kita berusaha untuk menghilangkan rasa tidak nyaman, nyeri, keluhan dan hal-hal lainnya yang mengganggu
6. Kita berusaha menghindari tindakan medis yang sia-sia, namun memberikan berbagai alternatif termasuk pengobatan dari bahan herbal
7. Mengupayakan dalam mengintegrasikan aspek bio-psiko-sosial-spiritual bagi perawatan seseorang baik penderita/klien/pasien termasuk para anggota keluarganya
8. Senantiasa memberikan dukungan yang diperlukan, agar orang-orang tersebut terutama penderita/klien/pasien tetap aktif beraktivitas sesuai dengan kondisinya sampai akhir hayat dalam kebahagiaan, kedamaian dan kesenangan
9. Juga memberikan dukungan kepada para anggota keluarganya dalam masa duka cita.
Masih banyak lagi hal-hal yang dapat dilakukan PSM, dengan mengajak dan merajut relawan-relawan sosial disekitarnya untuk menjadi PSM dan bersama-sama dalam merespon kondisi dan perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sosialnya.

D. KESIMPULAN

Penyuluhan dan bimbingan Sosial sebagai gerak dasar yang mengawali usaha-usaha kesejahteraan sosial oleh masyarakat, dilakukan Kementerian sosial sampai saat itu dengan tidak henti-hentinya dalam rangka membangun pilar-pilar partisipasi sosial masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Kementerian Sosial sangat menyadari bahwa tanpa PSM sebagai salah satu partisipasi sosial masyarakat, tidak dapat berbuat banyak dengan kata kurang optimal.

Daftar Bacaan :

1. Barker, Robert L.; (1999) : The Social Work Dictionary , 4 th edition, Washington D.C., NASW Press.
2. Departemen Sosial ; (1969): Petunjuk Bagi Para Pembimbing Sosial, Jakarta, Direktorat Bimbingan dan Penyuluhan Sosial
3. Departemen Sosial ; (1976): Pedoman Kerja Bagi Pembimbing Sosial Masyarakat (PSM), Jakarta, Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial
4. Departemen Sosial; (1979): Profil TKSS (Tenaga Kesejahteraan Sosial Sukarela), Jakarta, Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial.
5. Departemen Sosial; (1987) : Pedoman Kerja Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Jakarta, Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial
6. DuBois, Brenda; and Miley, Karla Krogsrud; (2005) : SOCIAL WORK, An Empowering Profession, Boston, Pearson Education, Inc.
7. Lawang, Robert M.Z.; (2005) ; Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologik, Jakarta, FISIP UI Press.
8. Lewis, Judith A; Lewis, Michael D; Daniels, Judy A.; and D’Andrea, Michael J. (1998) : Community Counseling, Empowerment Strategies Foe A Diverse Society, Second Edition, Pacific Grove, Brooks/Cole Publishing Company
9. Soetarso, Drs.,MSW.; (1999) : Praktik Pekerjaan Sosial, Bandung, Kopma STKS.
10. Zaztrow, Charles; (2004): Introduction to Social Work and Social Welfare, Eighth Edition; Belmont USA, Brokks/Cole- Thomson Learning.

Pengirim : Joko Sumarno (Widyiaswara Madya BBPPKS Jogyakarta)

Sumber : BBPPKS Yogyakarta