Pekerja Sosial Medis di Indonesia

Pengirim : Drs. Joko Sumarno, M.Si *)

Kemajuan yang dicapai dalam bidang kesehatan telah membawa perubahan sikap ilmu kesehatan yang selama ini kita kenal. Konsep itu tidak lagi membatasi diri pada individu yang sakit dan memerlukan pengobatan, melainkan ingin melihat manusia dalam interaksinyanya dengan lingkungan dimana ia hidup.

Adanya perubahan konsep itu menunjukkan bahwa ilmu kesehatan sekarang telah memperhitungkan dan mempergunakan keadaan sosial budaya masyarakat, mengajak kita berpikir untuk tidak hanya melihat penyakit dari perwujudan gejala dan sebab-sebabnya, untuk tidak mengetahui obatnya dan hilangnya penyakit, tetapi menantang kita untuk mengembangkan berbagai pengertian yang lebih konprehensif. Oleh karena itu diterminan masalah sehat dan sakit adalah bersifat bio-psiko-sosial-budaya dan ekologi (Glaser 1970, dalam Koentjaraningrat 1984).

Diterminan pertama adalah menyangkut keadaan faal dan fungsinya. Diterminan kedua adalah adalah persepsi tentang sehat dan sakit, sikap terhadap sehat dan sakit begitu seterusnya. Determinan ketiga adalah menyangkut kemampuan dalam melakukan status dan peranan sosial dalam masyarakat, status ekonomi dan status pendidikan. Determinan keempat adalah menyangkut ajaran mengenai sehat dan sakit, adat istiadat, keyakinan dan kepercayaan kepercayaan yang menyangkut tingkah laku sehat dan sakit, yang menyangkut pola pertahanan dan sebagainya. Kelima, adalah menyangkut keadaan lingkungan alam, kebersihan lingkungan fisik, rumah dan sekitarnya.(Sapartinah Sadli & Mely G.Tan dalam Koentjaraningrat, 1987).

Disisi lain dalam masalah sistem pelayanan kesehatan kita dihadapkan hubungan pasien dengan dokter pada waktu terakhir ini semakin terdepersonalisasi atau kurang manusiawi dan kurang responsibel. Pasien semakin banyak menunggu waktu dan dokter mengejar waktu sehingga esensi sehat/ sakit yang berimplikasikan masalah sosial psikologis tidak akan mendapat perhatian.

Pada umumnya dokter kita masih berorientasi (Medical oriented), yakni hanya menghadapi penyakit dan melakukan penyembuhan dengan obat, dianggap beres. Ini merupakan persepsi yang salah . Dalam pendekatan yang lebih holistik dan lebih manusiawi, harus memandang pasien pada prinsip individualisasi. Artinya, bahwa setiap pasien merupakan kasus tersendiri yang tentunya memiliki dimensi sosial-psikologis dalam kadar yang berbeda. Walaupun penyakitnya sama, mungkin hakekat penyebab penyakit dan hakekat akibat adalah berbeda.

Seiring depersonalisasi juga tampak adanya birokratisasi, terutama dalam pelayanan hospital. Pasien hanya merupakan nomor poliklinik, nomor laboratorium dan alamat rumah. lingkungan sosial, aspek ekonomi nyaris terlewatkan (Wierman;1950). Yang lebih menyedihkan adalah bahwa banyak masyarakat kelas bawah tidak bisa memeperoleh pelayanan yang memadai, dan bila dapat mempercayainya, akan memperoleh mutu pelayanan yang lebih rendah dibanding lapisan masyarakat menengah keatas. (Lumenta ; 1989). Di Indonesia dapat kita lihat pada kasus-kasus pasien yang disandera atau ditolak berobat karena tidak memiliki biaya yang mencukupi dan alasan lainnya. Keadaan ini diperparah lagi dengan ketatnya birokrasi, masalah ekonomi atau informasi.

Pola pelayanan kesehatan dirumah sakit yang konprehensif juga bukanlah hanya berdimensikan bio-psiko-sosial-budaya, melainkan harus melihat data awal situasi calon pasien dan pelayanan awal sebelum pasien masuk kerumah sakit. Tidak jarang pasien tidak tahu tentang jalur birokrasi yang harus dilalui. Demikian data awal tentang status sosial ekonomi pasien yang nantinya dapat digunakan bagaimana pasien harus mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Misalnya pasien miskin, tentunya harus kita beri layanan informasi dulu pada keluarganya bagaimana mereka akan mendapatkan dispensasi biaya dll. Disamping data awal adalah data sosial psikologis pasien ketika menjalani perawatan, terutama apakah ada pengaruh sakitnya terhadap sistem psiko-sosial. Misalnya pasien yang menghadapi operasi, dalam beberapa kasus mengalami gangguan psikologis berupa ketakutan-ketakutan dan rasa kecemasan akan biaya dan kecacatannya dll. Keadaan seperti tersebut sering mengganggu suksesnya sebuah operasi.

Namun yang juga tidak kalah pentingnya adalah data maupun pelayanan pasca pasien menjalani pelayanan medis (After Care). Data tersebut diperuntukkan untuk mengetahui efek samping secara psikologi dan sosial akibat sakit. Sebagai contoh adalah pasien yang menjalani pasca amputasi, tentu akan menghadapi masalah psikolos seperti rendah diri, kecewa, kecemasan, masalah ketrampilan , kehilangan status sosial, aksesibilitas, hilangnya penghasilan. Dan akhirnya bagaimana harus memberikan pelayanan kesehatan lanjutan (After Care) yang berupa pelayanan rehabilitasi sosial maupun rehahilitasi mental.

Adapun faktor-faktor yang menetukan keadaan kesehatan seseorang pada umumnya meliputi beberapa komponen, antara lain :
1. Lingkungan baik secara fisik, ekonomi, sosial, budaya
2. Bentuk-bentuk pelayanan seperti pencegahan, pemeliharaan dan rehabilitasi
3. Perilaku seseorang
4. Kesehatan

Konsekwensi dari masalah tersebut diatas tentunya dalam pelayanan kesehatan perlu peranan praktisi sosial sebagai bagian team pelayanan kesehatan

 

Pelayanan Kesehatan dalam Sistem Kesejahteraan Sosial

Menurut WHO pengertian sehat adalah meliputi keadaan sehat secara jasmani, rohani dan sosial. Sedangkan dalam sistem kesehatan Nasional (SKN) tujuan pembangunan dibidang kesehatan adalah mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.

Lee dan Jone (1993) dalam karya klasiknya yang berjudul (The Fundamentals Of Good Medical Care), mencoba menjabarkan tentang bagaimana pelayanan kesehatan yang baik agar tercapai kesehatan yang optimal. Menurut mereka ada delapan hal yang harus diperhatikan.

1. Pelayanan medis yang tidak terbatas pada pelaksanaan pengobatan rasional yang didasarkan atas ilmu kedokteran.
2. Pelayanan medis yang baik menekankan pada pencegahan
3. Pelayanan medis yang baik menghendaki kerjasama yang wajar antara kaum awam dengan para pelaksana ilmu pengetahuan kedokteran.
4. Pelayanan medis yang baik dalam mengobati seseorang secara seutuhnya.
5. Pelayanan medis yang memelihara hubungan pribadi antara dokter dan pasien secara erat berkesinambungan
6. Pelayanan medis yang baik dikoordinasikan dengan pembinaan kesejahteraan sosial
7. Pelayanan medis yang baik mengkoordinasikan semua jenis (spesialisasi) pelayanan medis
8. Pelayanan medis yang baik berarti memanfaatkan semua pelayanan yang diperlukan.

Dari kedelapan hal tersebut di atas tampak bahwa masalah kesehatan adalah masalah kesejahteraan sosial dan merupakan bagian dari institusi kesejahteraan sosial. Hal ini sebagaimana juga yang dikemukakan Zastrow (1982) bahwa institusi kesejahteraan sosial adalah merupakan susunan dari program pelayanan (public asistence, for care, probation and parole) dan pelayanan organisasi sosial ( Planed Parenthood, alchoholics anomyous, healh institution, and human services).

Sedangkan Friedlander (1961) memandang bahwa kesehatan adalah salah satu faktor penting dalam kesejahteraan sosial. Kesehatan merupakan aset berharga bagi masyarakat yang merupakan salah satu tujuan kesejahteraan sosial itu sendiri.

Menurut UU No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pengertian Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Hal ini dipertegas oleh Kahn (1979) bahwa pengertian kesejahteraan sosial dalam arti luas mencakup enam komponen yaitu :
1. Kesehatan
2. Pendidikan
3. Perumahan
4. Pelayanan kerja
5. Pemelihraan penghasilan (Income maintance) yang meliputi asuransi sosial dan asistensi sosial.
6. Personal social servives (pelayanan sosial secara perorangan).

Dibawah ini merupakan beberapa praktisi dalam bidang kesejahteraan sosial yang sangat terkait, antara lain:
1. Psikater
2. Guru atau pembimbing disekolah
3. Para psikolog
4. Perawat dilingkungan rumah sakit atau tempat pelayanan umum bidang kesehatan
5. Pekerja sosial itu sendiri
6. Sarana hiburan atau rekreas

Pekerjaan Sosial dalam Lapangan Kesehatan

Joe R. Hoffer dalam karya tulisnya yang berjudul Information Exchange in Social Welfare mengatakan Jika kesejahteraan sosial adalah menggambarkan tentang lapangan dari pekerjaan sosial, lalu pekerjaan sosial dipergunakan untuk mencapai tugas profesional dari tujuan inti kesejahteraan sosial.

Dari beberapa konsep yang disampaikan para ahli di atas, dapat dipahami bahwa antara kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial terdapat hubungan yang saling mengkait dan saling mendukung sehingga keberadaan keduanya tidak dapat dipisahkan. Kesejahteeraan sosial dipahami sebagai lapangan usaha pelayanan, yang mana pekerjaan sosial dipandang sebagai profesi yang bertugas menyelenggarakan serta membantu manusia dalam merealisasikan program-program kesejahteraan sosial.

1. Kebutuhan akan peran pekerja sosial dalam bidang kesehatan adalah sebagai tuntutan perkembangan sistem pelayanan kesehatan. Pada satu sisi pengetahuan medis dan tehnologi medis semakin hari semakin bertambah dan berubah, pada sisi lain dapat dipahami bahwa dokter tidak mungkin memperdalam segala permasalahan sosial – psikologis termasuk penyembuhan yang bersifat rehabilitasi sosial-psikologis. Disinilah Dohrenwend (1979) mengemukakan bahwa untuk mengatasi masalah itu, diperlukan seorang pembantu dan pendamping dokter yang khusus memperhatikan atau mempunyai minat menilai latar belakang sosial budaya pasien yang relevan dengan keluhannya dan penyakitnya.

Dari sinilah Hess ( 1988) menyatakan, sangat diperlukan sorang tim pelayanan di rumah-rumah sakit, seperti :
1. Administrator di rumah sakit
2. Ahli kehehatan
3. Pekerja sosial
4. Perawat
5. Dokter
6. Pasien itu sendiri

Keberadaan pekerja sosial dalam setting kesehatan dimulai pada tahun 1905, di rumah sakit Massachusett General Hospitas Boston yang dipelopori oleh : Richard Cabot. Dasar pemikiran Cabot dan koleganya pada saat itu adalah adanya kebutuhan untuk memahami tentang hubungan faktor-faktor sosial terhadap sakit dan penyembuhanya dan bagaimana menggunakan sumber-sumber sosial kemasyarakat dalam pelayanan pasien secara konprehensif. Dan ini merupakan awal berkembangnya spesialisasi pekerja sosial medis ( Medical Social Worker ).

Menurut cacatan American Hospital Association, pada tahun 1984 terdapat 5.209 atau 82,7 5 dari 6,302 jumlah Rumah Sakit telah menerapkan sistem pelayanan pekerja sosial. Sedangkan jumlah pekerja sosial yang bekerja dilapangan dari tahun ke tahun terus bertambah. Pada tahun 1960 di Amerika tercatat telah lebih dari 50.000 pekerja sosial medis. Sedangkan di Indonesia diperkirakan tidak lebih dari 0,5 % Rumah Sakit yang menggunakan jasa tenaga pekerja medis. Keadaan seperti ini dimungkinkan karena: Pertama, sebelum belum mantapnya sistem pendidikan pekerja sosial dan belum banyak dikenalinya keberadaan pekerja sosial di Indonesia. Kedua, karena perkembangan kesehatan di Indonesia baru mencapai tahapan ketiga dimana ilmu kedokteran klinik menjadi pusat kegiatan dan kekuatan.

Namun pada tahun terakhir ini menunjukkan gelagat perubhan ketahapan yang lebih maju yakni kearah (People Oriented) dan akan membutuhkan akan pelayanan yang multidisipliner. Hal ini didasari asumsi (Johnson, 1983) bahwa :
1. Semua kenyataan sakit dan semua kekacauan mental adalah berdasarkan pertimbangan psikosomatic.
2. Setiap individu adalah unik dan merupakan bagian dari Body mind dan spirit: yang saling berinteraksi.
3. Pasien dan petugas kesehatan meiliki tanggung jawab bersama untuk proses penyembuhan.
4. Pelayanan kesehatan adalah bukan hanya tanggung jawab petugas kesehatan semata sebagaimana konsep tradisional.
5. Sakit adalah menciptakan kesempatan pada individu untuk belajar lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental tentang dirinya sendiri.
6. Petugas kesehatan harus memahami diri pasien sebagai manusia berpikir.

Pekerja sosial medis dalam seting kesehatan adalah praktisi yang bekerja sama dengan anggota team kesehatan lainnya untuk melakukan study, diagnosa dan penyembauhan yang menyangkut aspek sosial, psikologis dan kekuatan lingkungan yang dapat digunakan dalam proses penyembuhan.

Fungsi pekerja sosial medis di dalam bidang kesehatan (rumah sakit) adalah :
1. Menganalisis kekuatan dan kelemahan pasien secara psikologis dan ekologinya.
2. Menjalin kerja sama dengan anggota team kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan, agar pelayanan kesehatan lebih maksimal.
3. Membantu keluarga dalam proses penyembuhan dan mendorong pasien agar mau berpartisipasi dalam proses pengobatan.
4. Bekerja sama dengan profesi lain untuk menyusun sistem pelayanan dalam rumah sakit secara interdisipliner.
5. Bertindak sebagai perantara dalam pelayanan kesehatan masyarakat dengan cara menghubungkan kebutuhan pasien dengan cara menghubungkan kebutuhan pasien dengan lembaga-lembaga atau pelayanan kesehatan.
6. Berpartsipasi dalam proses pengambilan kebijakan kesehatan.
7. Ikut serta dalam penelitian kesehatan untuk menambah pengetahuan yang dapat digunakan untuk meningkatkan keberhasilan pelayanan kesehatan.(Skidmore, 1988).

Sedangkan tugas dan fungsi pekerja sosial medis menurut (Abramson.M, 1984), menyatakan sebagai berikut : yakni melaksanakan penilaian psikososial pada seseorang, meliputi; pendidikan, konseling, komunikasi, perencanaan pengentasan dan kesinambungan perawatan serta advokasi.

Apa Korelasinya dengan kesejahetraan sosial?

Terkait dengan UU No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pengertian Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

Jika kesejahteraan sosial adalah menggambarkan tentang lapangan pelayanan pekerjaan sosial lebih khusus bagi para pekerja sosial medis merupakan alat untuk mencapai tugas yang profesional dari tujuan inti kesejahteraan sosial tersebut. Sehingga dapat dipahami bahwa antara kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial terdapat hubungan yang manunggal. Kesejahteraan sosial dipahami sebagai ladang usaha pelayanan, sedangkan pekerjaan sosial adalah sebagai profesi yang bertugas menyelenggarakan serta membantu manusia dalam merealisasikan program-program kesehateraan sosial. Kalau saja masalah kesehatan merupakan bagian atau komponen dari kesejahteraan sosial, maka keberadaan pekerjaan sosial akan memiliki relevansi kuat untuk memberikan kontribusi keahliannya dalam bidang kesehatan.

Pekerjaan sosial adalah sebuah disiplin, ilmu dan seni sebagai cara yang digunakan untuk menyembuhkan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat dan menolong kearah kesejahteraan masyarakat serta menghubungkan dengan pelayanan-pelayanan sosial yang ada. Untuk setting pelayanannya dilingkungan kesehatan, sekolah, lembaga koreksional, tata kota, di pabrik-pabrik dll. Untuk itu pekerja sosial medis merupakan salah satu spesialisasi didalam pekerjaan sosial.

*Drs. Joko Sumarno, M.Si adalah seorang Widyaiswara Madya di BBPPKS Yogyakarta

DAFTAR PUSTAKA:
1. Abramson,M. (1984), Collective, Responsibility, in inter displinary Collaboration: An Ethicel Perspektive For Social Worker, Social Work In Health Care.
2. Dohrenwen, Bruce P and Dohrenwend, Barbara P (1979), Social Status and Psicological Disorder, Willey,New York.
3. Friedlander. Walter A (1961) Introduction To Social Welfare. Prentice Hall Inc. New York.
4. Glaser.WA (1970), Planning The Doctors System Of Remunaration And Their Effect. John Hopkings Press. Bartimore.
5. Johnson, Wayne (1982), The Social Services And Intruduction, Fe Peacock Publisher,Inc,Illionis.
6. Lumenta, Benyamin,(1989), Pelayanan Medis, Citra, Conflik dan Harapan , Kanisius,Yogyakarta.
————————–(1989). Penyakit Citra Alam dan Budaya . Kanisius, Yogyakarta
7. Hess, Beth B. Cs (1988), Sociologi Macmillan Publishing Company, New York.
8. Skidmore. Rex A (1988), Introduction To Social Work, Prestice Hall, New Jorsey.

 

Sumber : BBPPKS Yogyakarta