Utamakan Pengasuhan Anak oleh Keluarga

Oleh : Dini Fajar Yanti

Ketika berbicara tentang masalah kesejahteraan sosial anak tentu tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang sistem pengasuhan oleh orang tua. Setiap anak memiliki hak untuk tinggal dalam lingkungan pengasuhan keluarga, masyarakat memiliki andil untuk memperkuat pengasuhan anak oleh keluarga dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kebijakan yang mendukung keduanya. Pada dasarnya pengasuhan anak merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang,  kelekatan, keselamatan dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan demi kepentingan terbaik bagi anak, yang dilaksanakan baik oleh orang tua atau keluarga sampai derajat ketiga maupun orang tua asuh, orang tua angkat, wali serta pengasuhan berbasis residensial sebagai alternatif terakhir.

Dari definisi pengasuhan tersebut jelas adanya kontinuum dalam tahapan penentuan pengasuhan anak. Namun realitas menunjukkan saat ini jutaan anak Indonesia harus terpisah dari keluarga dan ditempatkan di panti asuhan (institusi) untuk rentang waktu yang cukup lama. Tanpa melalui perencanaan permanensi yang tepat dengan mempertimbangkan melakukan penguatan pada keluarga besar anak, wali, orang tua adopsi bahkan orang tua asuh sementara (foster care), anak langsung di”eksekusi” untuk ditempatkan pada institusi pengasuhan.

Pemerintah maupun masyarakat yang belum menempatkan isu pengasuhan anak sebagai isu utama menjadikan praktek ini berjalan begitu saja di Indonesia. Pelimpahan pengasuhan anak pada suatu lembaga pengasuhan seperti panti asuhan sering diistilahkan sebagai institusionalisasi. Tak dapat dibayangkan berapa ribu anak yang kehilangan figur dan kelekatan orang tua, terpaksa hidup jauh dari orang tua dalam waktu yang tidak sebentar dan berebut perhatian pengasuh yang jumlahnya kurang berimbang dibandingkan jumlah anak asuh (rasio antara anak dan pengasuh rata-rata 20:1).

Data BPS tahun 2006 menunjukkan jumlah anak Indonesia (usia dibawah 18 tahun) mencapai 79.898.000 jiwa dan mengalami peningkatan menjadi 85.146.600 jiwa pada tahun 2009. Di sisi lain hasil penelitian tentang Kualitas Pengasuhan Anak di Panti Sosial Asuhan Anak (Someone that Matter, 2007) menunjukkan bahwa jumlah perkiraan Panti Asuhan di Indonesia 8.000 dan jumlah anak di Panti Asuhan diperkirakan 500.000 anak, sedangkan yang mengejutkan adalah 90% dari anak-anak tersebut masih memiliki orang tua. Alasan utama anak harus diasuh dalam panti adalah kemiskinan dan untuk mengakses pendidikan. Pertanyaan adalah apakah program pemerintah utamanya Kementerian Sosial tidak sampai kepada mereka? Dan jika panti dianggap sebagai solusi penanganan kemiskinan, berapa juta panti lagi yang harus dibangun untuk menggantikan fungsi pengasuhan oleh orang tua?

Hasil penelitian tentang dampak institusionalisasi anak (2009) menyatakan bahwa semakin cepat seorang anak ditempatkan dalam permanensi pengasuhan, maka akan semakin baik untuk anak. Dampak dari institusionalisasi berkepanjangan secara umum diantaranya 1)Ketidaknormalan perilaku dan sosial akibat insecure attachment, 2) Rendahnya perkembangan akibat kurangnya simulasi dari lingkungan sosial, 3) Kekurangan IQ, 4) Berkurangnya aktivitas otak dan 5) Kurangnya aktivitas emosi termasuk kekurangan signifikan dalam persepsi daya tangkap termasuk respon untuk memahami mimik wajah. Dampak luar biasa akibat kelekatan yang tidak aman (insecure attachment) akan melekat seumur hidup pada anak.

Pertanyaan selanjutnya strategi apa yang harus ditempuh untuk mendukung pengarusutamaan terhadap pengasuhan berbasis keluarga (family based care)? Strategi yang dapat dilakukan dan perlu dikembangkan diantaranya:

  1. Pemerintah berperan dalam memperkuat regulasi terkait perlindungan dan pengasuhan anak serta mereformasi kebijakan pengasuhan berbasis keluarga. Bentuk nyatanya diantaranya penyusunan RPP Pengasuhan, Perwalian dan Pengangkatan Anak, kemudian mulai tahun 2012, 40% bantuan Program Kesejahteraan Sosial Anak Kemensos RI diberikan untuk anak diluar panti.
  2. Memperkuat mekanime pengasuhan alternatif, bentuk nyatanya Penerapan Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA) untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), sistem database nasional LKSA ; sosialisasi serta training untuk LKSA ; dan transformasi fungsi LKSA sebagai pendukung pengasuhan anak di dalam keluarga.
  3. Penguatan sektor kesejahteraan sosial, bentuk nyatanya pelaksanaan sertifikasi bagi pekerja sosial profesional dan akreditasi bagi LKS untuk memastikan beneficiaris memperoleh layanan yang profesional ; child protection and care dalam pendidikan pekerja sosial ; dan memperkuat keorganisasian yang menaungi bidang kesejahteraan sosial seperti IPSPI serta IPPSI.
  4. Social Campaign pada masyarakat luas terkait pentingnya mengutamakan pengasuhan dalam keluarga sehingga masyarakat berpartisipasi dalam upaya perlindungan dan pengasuhan anak. Bentuk nyatanya Kemensos RI bekerja sama dengan NGO’s melakukan penelitian tentang Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak (Someone that Matters, 2007), kemudian mensosialisasikan pada LKSA di Indonesia, unsur pemerintah dan masyarakat secara bertahap. Tanpa dukungan unsur masyarakat dan pemangku kebijakan tentu upaya pengutamaan pengasuhan anak oleh keluarga tidak akan berjalan maksimal dan berkelanjutan.

Sumber Kepustakaan :

Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 dan 2009.
Glossary.adoption.com
Joint Council Summary Report on The Bucharest Early Intervention Study : Effect of Institutionalization, Goal of Permanency. 2009.
Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak di Indonesia (Someone That Matters). 2007.
Sudrajat, Tata. 2013. Materi Presentasi : Pusat Dukungan Anak dan Keluarga (PDAK) Menuju Pengasuhan Berbasis Keluarga, Save the Children.
United Nation Guidelines for Alternative Care of Children. 2009.

Sumber : Suspensos Kemsos RI